Pergantian tanggal dihitung setelah matahari terbenam, sehari sebelumnya jika di kalender Masehi. Hijrah sering kali mewarnai pergantian tahun Islam ini.
Sebab, penanggalan kalender Hijriah ditetapkan saat peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 M.
"Kemudian kata hijrah lebih populer saat peristiwa besar dan babak baru perjuangan Rasulullah SAW ketika hijrah (pindah) dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 M. Dimana peristiwa hijrah itu oleh Sayyidina Umar dijadikan nama tahun Islam atas saran Sayyina Ali dalam musyarah para sahabat tahun 14 H," ujar Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, KH. Muhammad Cholil Nafis, dalam tulisannya di user strory kumparan (kumparan.com) pada 20 September.
Hijrah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dilakukan segaris antara fisik dan jiwa. Nabi Muhammad hijrah dari lingkungan yang mengusik ke lingkungan yang penuh keakraban. Hijrah ini menunjukkan perpindahan yang utuh dalam keimanan.
Tak sedikit umat Islam di Indonesia mengadakan acara untuk menyambut malam pergantian tahun ini. Mulai dari doa, selawat, dan zikir bersama. Seperti zikir akbar yang direncanakan Pemerintah Kota Banda Aceh pada Rabu (20/9) malam di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh.
Ada juga doa bersama yang dilakukan di Tebet, Jakarta Selatan, dan Pawai Obor di Sawah Besar, Jakarta Pusat, pada Rabu (20/9).
Di bulan Muharam ini, ada ibadah sunah yang bisa dilakukan, yaitu puasa Muharam (Asyura yang jatuh pada 10 Muharam). Sebelumnya, puasa ini hukumnya wajib. Namun setelah turun perintah kewajiban puasa Ramadan, puasa Asyura menjadi sunah.
Berikut hadis riwayat Muslim terkait puasa tersebut:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah - Muharam. Sementara salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam. [HR. Muslim]
Puasa Muharam ini pertama kali dijumpai Nabi Muhammad SAW saat berada di Madinah. Nabi Muhammad SAW melihat kaum Yahudi melakukan puasa di hari Allah menyelamatkan Nabi Musa a.s dan penenggelaman Firaun.
Nabi Muhammad SAW bersabda ada keutamaan berpuasa Muharam. Berikut hadis riwayat Muslim:
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
“Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura (Muharam) akan menghapus dosa setahun yang lalu"
[HR Muslim].
Namun menjelang akhir hayatnya, Nabi Muhammad SAW bertekad untuk tidak berpuasa pada hari Asyura saja. Ia berkeinginan untuk menambahkan dengan puasa sehari lagi, yaitu puasa tanggal 9 Muharam.
حِينَ صَامَ رَسُولُ الهِس صَلَّى الهُت عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ الهِس إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ الهِِ صَلَّى الهَُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ الهٌُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ الهِ صَلَّى الهُك عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan (para sahabat) supaya berpuasa. Para sahabat berkata : “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani”, Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Pada tahun depan insya Allah kita puasa tanggal 9”. Tetapi beliau wafat sebelum datangnya tahun berikutnya” [HR Muslim].
Sumber :https://kumparan.com/jihad-akbar1487918664529/menyambut-1-muharam-dengan-doa-dan-zikir


0 comments:
Post a Comment